Mungkin, hanya manusia purba yang tinggal di goa yang tidak tahu akan pembalap asal Italia satu ini. Dirinya sudah menjadi representasi salah satu cabang olahraga popular di dunia, yaitu MotoGP. Namanya, Nomor kebanggaannya, dan skill menusuk di tikungannya yang lihai sudah betul betul menancap dalam ingatan orang orang yang menjadikannya sebagai idola. Coba hitung berapa banyak rival balap yang ‘sengaja’ di blow up media hanya untuk menjadikan persaingan di lintasan lebih seru untuk ditonton? Dari awal karir balapnya pada tahun 1996 sampai 2020 hari ini? Dari mulai Jorge Martinez hingga Marc Marquez yang sama-sama berasal dari Spanyol? Sepertinya jawaban hal tersebut tak usah diragukan lagi.

Dengan perjalanan karir sepanjang itu, tentunya Valentino Rossi sudah memiliki pengalaman yang matang. Lintasan demi lintasan dari berbagai negara pernah ia ‘cicipi’. Cuaca dingin dan panas selalu ia coba taklukan. Podium 1 sampai 3 pernah ia duduki. Namun jangan lupa, pada cabang olahraga ini motor sebagai alat pacu yang dikendarai memiliki peranan yang penting. Begitu pentingnya peran motor dalam olahraga ini, dibutuhkan 9 dari 30 kru sebuah tim balap MotoGP yang bukan merupakan orang biasa melainkan orang-orang yang memiliki keahlian dalam dunia otomotif khususnya motor. Mereka menangani motor dari mulai perawatan sebelum dan sesudah balap sepanjang musim balapan berjalan. Bayangkan saja, jika para pembalap tidak mementingkan motornya, mungkin performa mereka tidak akan pernah maksimal dan memuaskan.

Kembali ke si pemilik nomor motor 46, pada tahun 2011 dirinya memutuskan hengkang dari Yamaha, tim yang sudah lama menemani dan membesarkannya di dunia balap ini ke tim yang berasal dari negaranya, yaitu Ducati. Banyak spekulasi bermunculan akan alasan hengkangnya tersebut. Alasan yang paling banyak dibicarakan adalah adanya rasa kekecewaan yang dirasakan Rossi terhadap Yamaha. Singkat cerita, Rossi menjalani musim balap 2011 dengan mengendarai motor Ducati. Sayangnya hari itu bukan hari yang baik bagi Rossi maupun Ducati, debutnya dinilai kurang memuaskan. Finish di posisi 7, Rossi mengatakan saat konferensi pers dengan wartawan di akhir balapan, bahwa kondisinya sedang kurang fit akibat cedera bahu musim sebelumnya yang masih mengganggu. Memang sudah bukan rahasia, bahwa motor Ducati adalah motor dengan mesin yang sulit dijinakkan. Powernya yang tinggi sangat bertolak belakang dengan gaya balap seorang Valentino Rossi. Ini menjadi tantangan baru baginya, sebab dia sudah menandatangani persetujuan kontrak dengan Ducati selama 2 tahun. Lalu, bagaimanakah seorang pembalap berpengalaman seperti Valentino Rossi menjalani ‘hubungan’ singkatnya dengan motor bermesin ‘liar’ milik Ducati saat itu? Mari kita lihat kilas balik beberapa momen terbaiknya,

1.Test Ride Pertama Yang Ditunggu

Test Ride Pertama Yang Ditunggu

Pada hari Selasa pagi, Valentino Rossi melakukan debut mengendarai motor Ducati di sirkuit Valencia. Tayangan tersebut adalah momen yang dinantikan para penggemar MotoGP, karna hal ini adalah momen yang krusial bagi kedua belah pihak setelah adanya persetujuan kontrak.

2.Salah Satu Kecelakaan Yang Sangat Disayangkan

Salah Satu Kecelakaan Yang Sangat Disayangkan

Lintasan basah di sirkuit Spanyol, gagal dimanfaatkan Rossi setelah dia      terjatuh di Lap ke-8 yang juga membuat pembalap asal Austrlia, Casey Stoner tak dapat melanjutkan balapan. Setelah kecelakaan tersebut, hubungan nya dengan Stoner menjadi sedikit panas.

3.Podium Terakhir Bersama Ducati

Podium Terakhir Bersama Ducati

Setelah berhasil menempel ketat Jorge Lorenzo di sirkuit San Marino, Rossi berhasil naik podium, meski harus puas berada di posisi 2. Ini juga merupakan podium terakhirnya bersama tim Ducati selama kontrak singkat dengan tim yang berasa dari Italia tersebut.

The Doctor, sapaan yang pantas disematkan kepada seorang Valentino Rossi sebab kerja sama dan komitmen bersama tim dalam membangun motor yang sesuai dengan gaya balapnya. Meskipun berada di tim Ducati merupakan tahun terburuknya selama berkarir, apresiasi yang tinggi pantas diberikan kepadanya.

Lalu, akankah pembalap lain bernasib sama dengan Rossi ketika menunggangi motor ‘kutukan’ milik Ducati?